BeritaBandungRaya.com – Saat jarum jam menyentuh tengah malam, suasana rumah biasanya telah sunyi. Suami dan anak-anak terlelap, pekerjaan domestik selesai. Namun di balik selimut, layar ponsel menyala terang. Jempol mulai sibuk menelusuri aplikasi e-commerce, berburu diskon bertajuk Midnight Sale Ramadan.
Fenomena ini kian marak setiap bulan puasa. Diskon besar, label “stok terbatas”, hingga hitungan mundur membuat banyak ibu rumah tangga tergoda untuk checkout sebelum waktu habis. Padahal, di balik kesenangan sesaat itu, tersimpan risiko yang tidak kecil bagi kesehatan mental dan stabilitas finansial keluarga.
FOMO dan Tekanan Sosial Jelang Lebaran
Bahan bakar utama Midnight Sale Ramadan adalah FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan ketinggalan tren. Media sosial membentuk standar baru: Lebaran terasa kurang lengkap tanpa baju seragam keluarga yang estetik, mukena premium, atau toples kue dengan desain kekinian.
BACA JUGA: Saat Bulan Suci Justru Terasa Hampa, Ini Penjelasan Psikologisnya
Tanpa sadar, muncul kompetisi sosial yang sebenarnya tidak pernah ada garis finisnya. Ada ketakutan irasional bahwa jika tidak segera membeli, maka akan menjadi satu-satunya keluarga yang tampil “biasa saja” saat Idulfitri.
Tekanan ini membuat belanja bukan lagi soal kebutuhan, melainkan soal citra.
Dampak Midnight Sale pada Kesehatan Mental
1. Kurang Tidur dan Emosi Tidak Stabil
Tubuh yang sudah lelah seharian beraktivitas dan harus bangun sahur, dipaksa tetap terjaga demi mengejar diskon tengah malam. Kurang tidur berulang dapat menyebabkan:










