BeritaBandungRaya.com – Pasar aset kripto global kembali mengalami pelemahan meski bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) telah memangkas suku bunga dan hubungan dagang antara AS dan China menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.
Mengutip Cointelegraph, tekanan jual masih membayangi pasar karena investor menilai ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik belum benar-benar mereda.
BACA JUGA : Mengenal Worldcoin: Proyek Kripto Global Sam Altman yang Dibekukan Komdigi di Indonesia
Ketegangan AS–China Mulai Mencair
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Kamis (30/10/2025) mengumumkan bahwa Washington akan menangguhkan pembatasan akses perusahaan China terhadap teknologi sensitif milik AS.
Langkah ini dilakukan sebagai imbal balik atas keputusan Beijing mencabut kontrol ekspor terhadap mineral tanah jarang (rare earth) — komponen vital dalam industri elektronik dan pertahanan.
Kebijakan tersebut disambut positif oleh pelaku pasar karena menandai pelonggaran ketegangan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia. Secara historis, situasi ini seringkali menjadi katalis bagi aset berisiko seperti kripto.
Namun, efek positif tersebut belum terlihat signifikan di pasar digital. Harga aset kripto tetap terkoreksi, menunjukkan bahwa investor masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter global sebelum kembali masuk ke pasar.
Suku Bunga Turun, tapi Sinyal The Fed Masih Kabur
Dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pekan ini, Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa pemangkasan suku bunga lanjutan pada Desember belum menjadi keputusan pasti.
Menurut Powell, meski inflasi telah turun jauh sejak 2022, tingkatnya masih berada di atas target 2 persen yang menjadi patokan kebijakan bank sentral.
“Pemangkasan suku bunga lebih lanjut pada Desember bukan sesuatu yang pasti. Kebijakan moneter tidak berada pada jalur yang telah ditetapkan,” ujar Powell dalam konferensi pers, Rabu (29/10).
The Fed juga mengonfirmasi berakhirnya kebijakan quantitative tightening (QT) — proses pengurangan likuiditas di pasar.
Namun, pelaku pasar menilai efek positif baru akan terasa jika bank sentral memulai quantitative easing (QE), yaitu program pembelian aset untuk menyuntikkan dana segar ke sistem keuangan.
Selama jeda antara akhir QT dan awal QE, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung mengalami tekanan, karena likuiditas pasar global belum meningkat secara signifikan.










