Pemkot Bandung Kerahkan 1.596 Petugas Gaslah, Penanganan Sampah Dimulai dari RW

BeritaBandungRaya.com – Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmennya dalam memerangi persoalan sampah dengan memulai gerakan dari tingkat paling bawah, yakni Rukun Warga (RW). Sebanyak 1.596 petugas pemilah dan pengolah sampah telah dikerahkan untuk menjangkau seluruh RW di Kota Bandung sebagai strategi penanganan dari hulu.

Muhammad Farhan menegaskan, persoalan sampah bukan sekadar isu kebersihan, melainkan tantangan besar yang membutuhkan perubahan sistem serta perilaku masyarakat secara menyeluruh.

“Sampah ini adalah persoalan serius. Kalau tidak dimulai dari hulu, maka hilirnya akan selalu berat,” ujar Farhan, Sabtu 21 Februari 2026.

BACA JUGA: Tennis & Padel Matic Hadir di Graha Pos Indonesia Bandung, Siap Beroperasi April 2026

Produksi Sampah Pasar Capai 20 Ton per Hari

Salah satu titik krusial penanganan sampah berada di kawasan pasar tradisional Kota Bandung yang setiap harinya menghasilkan sekitar 20 ton sampah. Mayoritas berupa limbah organik dari pisang.

Menurut Farhan, Kota Bandung merupakan konsumen pisang dalam jumlah besar. Namun, hanya buahnya yang dimanfaatkan, sementara kulit dan bagian lainnya menjadi beban dalam sistem pengelolaan sampah kota.

“Problemnya adalah limbah organik itu harus diolah dengan teknologi biodigestor yang memang menimbulkan bau,” jelasnya.

Ia mengakui, metode pengolahan lanjutan seperti maggot, biodigestor, hingga Refuse Derived Fuel (RDF) tetap memiliki konsekuensi risiko bau. Bahkan teknologi termal sekalipun tidak sepenuhnya bebas dampak.

Kondisi ini kerap memunculkan resistensi masyarakat di sekitar lokasi pengolahan. Padahal, tanpa pengolahan yang tepat, timbunan sampah justru menimbulkan dampak lingkungan yang lebih besar.