2. Antisipasi Kenaikan Debit Sungai
Untuk mengantisipasi peningkatan debit Sungai Cikapundung, Pemkot Bandung memanfaatkan sistem sensor peringatan dini yang dikelola oleh Diskominfo Kota Bandung.
“Kalau di daerah hulu sensor sudah berbunyi, maka wilayah hilir yang berpotensi terdampak akan langsung diingatkan,” jelas Farhan.
Informasi dari sensor tersebut diteruskan ke command center, lalu disampaikan kepada petugas di lapangan. Wilayah yang menjadi perhatian antara lain kawasan Dago, Luhur Dago, hingga Tahura.
Namun, Farhan menegaskan perhatian terbesar saat ini tertuju pada kawasan Bandung Utara (KBU), khususnya di sekitar kaki Gunung Manglayang.
“KBU itu yang paling mengkhawatirkan. Terus terang, yang paling bikin tegang sekarang adalah Manglayang,” ungkapnya.
Ia menyebut jarak antara titik rawan longsor dengan permukiman warga sangat dekat, terutama di wilayah Mandalajati, Cibiru, dan Ujungberung.
“Karena jaraknya dekat sekali dengan rumah warga, itu yang membuat kami sangat waspada,” tambahnya.
BACA JUGA: Wali Kota Bandung Farhan Tinjau Langsung Keluhan Warga Terkait Banjir Kiriman di Pasir Endah
3. Jaga RTH dan Tunggu Modifikasi Cuaca
Sebagai langkah mitigasi lanjutan, Pemkot Bandung memastikan ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah Mandalajati dan Cibiru tetap terjaga sebagai area penyangga lingkungan.
“Kita pastikan semua buffer yang kita miliki, RTH di Mandalajati dan Cibiru, benar-benar terjaga. Pohonnya tidak boleh ditebang,” ujar Farhan.
Selain itu, Pemkot Bandung juga menunggu pelaksanaan modifikasi cuaca yang dikoordinasikan oleh BNPB, mengingat banyak wilayah di Jawa Barat yang membutuhkan intervensi serupa.
“Kita sedang menantikan jadwal modifikasi cuaca dari BNPB, karena Jawa Barat memang banyak titik yang perlu dimodifikasi,” katanya.








