Program Gas Lah Jadi Langkah Nyata
Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung telah meluncurkan Program Gas Lah dengan menugaskan satu petugas pemilah dan pengolah sampah di 1.596 RW.
Program ini memastikan pemilahan dilakukan langsung dari rumah tangga. Sampah organik ditangani di tingkat kelurahan, sedangkan sampah anorganik masuk ke tahap pengolahan lanjutan.
“Petugasnya mengetuk pintu rumah warga dan memastikan sampah dipilah,” kata Farhan.
Banyumas Dinilai Unggul karena Ekosistem dan Tata Kelola
Farhan menilai keberhasilan Banyumas tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada ekosistem pengelolaan dan integritas tata kelola.
“Kami ingin belajar bagaimana Banyumas menjaga integritas agar pengelolaan sampah berkelanjutan,” ujarnya.
Pemkot Bandung menargetkan scaling up pengolahan sampah secara bertahap, dengan sasaran peningkatan dari 22 persen menuju 80 persen.
“Belajar dari Banyumas adalah solusi jangka pendek sekaligus proyeksi jangka panjang,” ungkap Farhan.
Banyumas Ubah Sampah Jadi Sumber Ekonomi
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menjelaskan bahwa daerahnya telah mengubah paradigma sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sejak 2018.
Saat ini Banyumas mengoperasikan sekitar 45 TPST, TPS 3R, dan PDU yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat. Sistem ini menyerap lebih dari 1.500 tenaga kerja.
Dampaknya, biaya pengelolaan sampah turun drastis dari Rp40 miliar pada 2018 menjadi di bawah Rp10 miliar pada 2025. Bahkan, pengolahan RDF dan daur ulang plastik mulai memberikan kontribusi pendapatan daerah berbasis ekonomi sirkular.***










