Regenerasi Kartunis dan Tantangan Era AI
Dalam kesempatan tersebut, Abdullah juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi dunia kartun saat ini, terutama minimnya regenerasi kartunis muda di tengah gempuran teknologi digital.
“Generasi kartunis senior sudah mulai berkurang. Maka, karya mereka perlu diarsipkan dan ditampilkan di museum agar menjadi inspirasi bagi generasi baru,” ujarnya.
Selain itu, kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) turut menjadi isu penting. Menurut Abdullah, AI memang bisa membantu proses kreatif, tetapi tidak boleh menggantikan sentuhan manusia dan nilai orisinalitas karya kartun.
“Teknologi AI boleh digunakan untuk mencari inspirasi, tapi tidak bisa menggantikan imajinasi dan karakter khas tangan manusia,” tegasnya.
Saat ini, Pakarti mencatat ada sekitar 300 kartunis aktif yang tersebar di berbagai daerah dengan gaya dan karakter visual yang beragam.
Dukungan DPR: Museum Harus Punya Fungsi dan Visi Jelas
Gagasan pendirian Museum Kartun Indonesia mendapat dukungan dari anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, yang menilai inisiatif tersebut penting untuk melestarikan budaya visual bangsa.
“Kami siap mendukung jika visi dan fungsinya dirumuskan dengan jelas. Museum ini jangan hanya menjadi tempat kumpulan karya, tetapi juga ruang edukasi dan inovasi,” ujar Samuel.
Ia menambahkan, kejelasan arah dan jejaring antarseniman akan menjadi kunci agar museum ini bisa berkelanjutan dan memberi dampak luas bagi dunia seni.
BACA JUGA: Bandung Hadapi Potensi Krisis Sampah, 360 Ton Per Hari Terancam Menumpuk
Koleksi Perdana: Warisan Kartun Klasik
Sebagai bagian dari Semarang Cartoonfest 2025, sejumlah karya kartun klasik telah diserahkan kepada panitia sebagai koleksi awal untuk museum yang sedang digagas.
Langkah ini menjadi tonggak awal lahirnya pusat dokumentasi kartun pertama di Indonesia, sekaligus mempertegas posisi Semarang sebagai episentrum seni kartun nasional.***








