Ketua Persatuan PKL Cicadas, Suherman, menegaskan bahwa penolakan muncul karena para pedagang merasa tidak dilibatkan dalam proses perencanaan. Menurutnya, pemasangan plang dan pemberitahuan kawasan BRT dilakukan tanpa adanya kesepakatan terlebih dahulu dengan PKL.
“Pedagang mempertanyakan nasib mereka ke depan. Sampai sekarang belum ada kejelasan apakah akan direlokasi atau diberi kompensasi,” ujar Suherman, Jumat (16/1/2026).
Ia menyebutkan, pihaknya telah melakukan pendataan mandiri terhadap jumlah PKL di kawasan Cicadas. Berdasarkan data terbaru, terdapat sekitar 540 PKL aktif, setelah dilakukan verifikasi ulang karena sebagian pedagang sudah berhenti berjualan akibat sepinya pembeli.
“Awalnya tercatat 572 PKL, tapi setelah dicek satu per satu, yang benar-benar masih jualan sekitar 540,” katanya.
Dari jumlah tersebut, Suherman menjelaskan bahwa sebagian kecil pedagang ingin tetap berjualan, sementara mayoritas berharap adanya kompensasi jika harus meninggalkan lokasi. Menurutnya, opsi relokasi dinilai sulit karena hingga kini belum tersedia lahan pengganti yang jelas.
Baca Juga: Daftar Apotek 24 Jam di Bandung Terbaik, Solusi Cepat Kebutuhan Obat Kapan Saja
“Kalau relokasi, tempatnya belum ada. Kalau kompensasi, itu bisa dibicarakan dengan pemerintah, nanti pedagang yang memutuskan,” ucapnya.
Senada, salah seorang PKL Cicadas, Cecep Ahmad (49), mengaku resah dengan rencana pembangunan koridor BRT tersebut. Ia berharap ada pertemuan resmi antara pedagang dan pihak terkait agar ada kepastian mengenai masa depan mereka.







