Data radar AirNav menunjukkan kontak terakhir berada di koordinat 4°57’8” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur, wilayah perbukitan karst Leang-Leang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang dikenal memiliki medan terjal dan vegetasi rapat.
Pesawat tersebut membawa 11 orang, terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang. Hingga berita ini diturunkan, keberadaan pesawat masih belum diketahui.
Basarnas Makassar mengerahkan sedikitnya 40 personel gabungan untuk melakukan operasi pencarian. Tim SAR melakukan penyisiran bertahap, termasuk pemetaan visual menggunakan drone untuk menjangkau area yang sulit diakses melalui jalur darat.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menyatakan pencarian dilakukan dalam beberapa gelombang guna menjaga efektivitas dan kondisi fisik personel di lapangan.
“Kami langsung bergerak menuju titik koordinat di kawasan Leang-Leang. Tim sortir pertama melakukan pemetaan awal, kemudian disusul gelombang berikutnya untuk memperluas radius pencarian,” ujar Andi Sultan.
Hilangnya pesawat ATR 42-500 ini juga dikonfirmasi oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman S. Laisa, yang memastikan seluruh pihak terkait tengah berkoordinasi untuk mempercepat proses pencarian.
Baca Juga: HP Dicas Tapi Tidak Mengisi? Jangan Panik! Ini Langkah Mudah Mengatasinya
Reputasi Keselamatan Jadi Sorotan
Sebagai maskapai yang telah beroperasi lebih dari setengah abad, insiden hilang kontaknya pesawat ATR 42-500 ini menjadi ujian serius bagi reputasi keselamatan Indonesia Air Transport. Publik kini menantikan hasil pencarian serta investigasi lanjutan untuk mengetahui penyebab pasti hilangnya pesawat tersebut.***











