– Kepala Staf Kodam XVI/Udayana (1978)
– Panglima Kodam IV/Sriwijaya (1979)
– Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (1985)
– Kepala Staf Angkatan Darat (1986–1988)
– Panglima ABRI (1988–1993)
Saat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat, ia menggagas pembentukan Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI AD sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan prajurit. Sementara itu, ketika menjadi Panglima ABRI, ia menghadapi berbagai dinamika keamanan nasional, termasuk penanganan situasi di Aceh pada akhir 1980-an.
Kedekatannya dengan pusat kekuasaan juga terlihat ketika ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1974. Posisi tersebut memberinya pengalaman langsung memahami dinamika pemerintahan.
Baca Juga: Sinergi BRI RO Bandung dan BO Jatibarang: Salurkan 5.000 Paket Sembako untuk Masyarakat Kurang Mampu
Menjadi Wakil Presiden RI ke-6
Puncak karier politik Try Sutrisno terjadi pada 1993, ketika Sidang Umum MPR memilihnya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Soeharto. Ia menjabat hingga 1998, periode yang penuh dinamika menjelang reformasi.
Sebagai wakil presiden, Try Sutrisno dikenal sebagai figur yang menekankan stabilitas pemerintahan di tengah situasi politik dan ekonomi yang menantang. Setelah masa jabatannya berakhir, posisinya digantikan oleh B. J. Habibie.
Kiprah Setelah Purnatugas
Usai tidak lagi menjabat wakil presiden, Try Sutrisno tetap aktif dalam kegiatan kebangsaan. Ia menjabat Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) periode 1998–2003, berperan menyatukan para purnawirawan lintas matra dalam satu organisasi.












