BeritaBandungRaya.com – di tengah kekhawatiran mengenai AI yang memicu pemangkasan tenaga kerja di berbagai sektor, Razer justru melihat teknologi ini sebagai peluang besar bagi dunia game. CEO sekaligus pendiri Razer, Min-Liang Tan, menyebut AI akan mengubah banyak proses penting dalam ekosistem gaming, mulai dari pengembangan hingga pengalaman bermain.
BACA JUGA : Eksplorasi Baru: The Gang Luncurkan Studio Spin-Off untuk Dorong Ekspansi dan Inovasi IP Game
menurut Tan, hampir setiap pihak di industri game akan tersentuh teknologi ini. pengembang dapat memanfaatkan perangkat berbasis AI untuk membantu proses coding dan desain, sementara publisher bisa mengoptimalkan distribusi dan pemasaran gim dengan sistem otomatis yang lebih presisi.
AI Tidak Dipakai di Ajang Kompetitif, tapi Jadi “Sparring Partner” Saat Latihan
Tan menegaskan, AI tidak akan dipakai dalam pertandingan eSports atau kompetisi profesional karena bisa mengganggu integritas permainan. namun, AI justru punya potensi besar sebagai alat latihan.
“para gamer bisa berlatih dengan AI dan mengasah strategi sebelum turun ke pertandingan,” kata Tan. menurutnya, minat terhadap teknologi tersebut terus meningkat karena AI bisa memberi tantangan baru yang lebih adaptif dibandingkan bot tradisional.
Dari Deteksi Bug hingga Saran Perbaikan: Razer AI QA Companion
Razer sudah mulai mengaplikasikan teknologi AI dalam proses quality assurance (QA). lewat platform AI QA Companion, sistem dapat:
· mendeteksi dan mencatat bug dengan cepat
· menganalisis pola kesalahan
· memberikan rekomendasi perbaikan kepada developer
Menurut Tan, langkah ini mampu memangkas waktu dan biaya QA secara signifikan — dua komponen terbesar dalam proses pengembangan game.
“QA biasanya menyedot 20–30% biaya pengembangan dan sekitar 30% waktu produksi,” jelasnya.
Dengan otomasi, kerja penguji manusia menjadi lebih efisien karena mereka bisa fokus pada kasus-kasus yang lebih kompleks.











