BeritaBandungRaya.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,08 persen atau sekitar 14 poin ke level Rp17.104 per dolar AS.
Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan global.
Sentimen Geopolitik Masih Dominan
Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik, khususnya terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
BACA JUGA: Harga Emas Antam Hari Ini 10 April 2026 Naik, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
Pasar masih menunggu kelanjutan kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara tersebut. Di sisi lain, Israel dilaporkan tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon, yang menambah ketidakpastian global.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih jauh dari normal. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih tinggi dan berdampak pada pasar.
Gangguan Pasokan Energi dan Dampaknya
Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga berdampak pada sektor energi. Laporan dari JPMorgan Chase menyebutkan adanya kerusakan puluhan aset infrastruktur di kawasan Teluk akibat serangan drone dan rudal.
Akibatnya, kapasitas penyulingan minyak global mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan harga energi dan memicu tekanan inflasi global.
Pasar Tunggu Data Inflasi AS
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat, khususnya Indeks Harga Konsumen (CPI).
Data ini akan menjadi acuan bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan. Ekspektasi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi menjadi perhatian utama investor.









