Perbaikan Struktur Neraca dan Peluang Dividen
Sentimen positif juga datang dari upaya perbaikan struktur keuangan. DEWA tengah menjalani proses reklasifikasi ekuitas, khususnya terkait selisih kurs sekitar Rp2,2 triliun yang sebelumnya dicatat sebagai rugi ditahan.
Proses tersebut saat ini masih dalam tahap review oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan auditor. Jika rampung, langkah ini dinilai akan memperbaiki neraca perusahaan sekaligus membuka peluang bagi DEWA untuk menyusun kebijakan pembagian dividen pada 2026.
Isu potensi dividen ini menjadi salah satu sentimen yang cukup diperhatikan investor, terutama di tengah perbaikan kinerja dan ekspansi bisnis perseroan.
Fasilitas Kredit Rp1 Triliun dari BCA
Pada 19 Desember 2025, DEWA juga menandatangani fasilitas kredit senilai total Rp1 triliun dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Fasilitas tersebut terdiri dari Rp850 miliar untuk modal kerja dan Rp150 miliar untuk belanja investasi, termasuk pembelian alat berat baru.
Pendanaan ini dinilai akan memperkuat likuiditas perseroan dalam mendukung pengambilalihan proyek tambang, ekspansi di Arutmin, serta modernisasi armada operasional menjelang fase pertumbuhan berikutnya.
Aksi Borong Saham oleh CGS International
Lonjakan saham DEWA juga tidak lepas dari pergerakan investor institusi. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), CGS International Sekuritas Indonesia tercatat melakukan pembelian saham DEWA pada 11 Desember 2025 di harga Rp264 per saham.
Dengan transaksi tersebut, kepemilikan CGS International meningkat dari 1,56 miliar saham (3,86%) menjadi 2,24 miliar saham (5,53%). Kenaikan porsi kepemilikan di atas 5 persen ini memperkuat persepsi pasar terhadap masuknya big fund ke saham DEWA.










