Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai tahun 2026 berpotensi menjadi fase turnaround bagi saham-saham perbankan.
Menurutnya, tekanan terhadap kinerja saham bank sepanjang 2025 banyak disebabkan oleh tingginya cost of fund (CoF) yang menekan net interest margin (NIM).
“Sentimen utama tahun depan adalah penurunan suku bunga. Ketika suku bunga turun, NIM bank justru berpotensi meningkat karena penurunan cost of fund biasanya lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit,” ujarnya.
Kredit Berpotensi Tumbuh, Laba Bank Membaik
Dari sisi fundamental, Wafi menilai industri perbankan akan beralih dari fase bertahan menuju fase ekspansi. Penurunan suku bunga diperkirakan mampu mendorong permintaan kredit baru serta memperbaiki kualitas aset perbankan.
Dengan membaiknya kualitas kredit, beban provisi berpotensi menurun sehingga laba bersih bank dapat tumbuh lebih solid pada 2026. Ia pun menyarankan strategi investasi front running, yakni mulai melakukan akumulasi saham sebelum sentimen penurunan suku bunga sepenuhnya terealisasi.
“Investor bisa mulai akumulasi saat valuasi masih relatif diskon. Pasar biasanya bergerak lebih dulu sebelum kebijakan resmi diumumkan,” jelasnya.
Untuk 2026, Wafi memproyeksikan target harga saham perbankan besar, antara lain BBRI Rp5.800, BMRI Rp7.800, BBCA Rp11.200, dan BBNI Rp5.200.
BACA JUGA: Saham DEWA Nyaris Sentuh Level 700, Ini Faktor di Balik Lonjakan Tajamnya
Rekomendasi Analis Lain
Sejalan dengan pandangan tersebut, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, juga melihat 2026 sebagai momentum pemulihan sektor perbankan.








