Hazel juga menyarankan perusahaan menanamkan keaslian, inklusi, fleksibilitas, serta peluang pengembangan diri, agar Gen Z dapat berkembang, berinovasi, dan bertahan di perusahaan yang sejalan dengan nilai-nilai mereka.
Sesi kedua, bertema “The Power of Gen Z Distinctive Strength Future Leaders”, menyoroti pentingnya mengubah stereotip terhadap Gen Z di dunia kerja. Willy Sarlan menegaskan bahwa Gen Z berani bertanya, mencari makna, dan berorientasi pada dampak. Perusahaan perlu memberikan peluang pemberdayaan, tanggung jawab, dan makna dalam pekerjaan agar Gen Z dapat berkembang menjadi pemimpin yang baik.
Dr. Ir. Yuni Ros Bangun menambahkan apresiasi terhadap keberhasilan Unilever yang menjadi perusahaan favorit Gen Z karena komitmennya mendorong kepemimpinan di setiap karyawan. Hal ini menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan dapat menyesuaikan budaya kerja untuk mengoptimalkan potensi generasi baru.
Baca Juga: Goldmart Rayakan Ulang Tahun ke-34, Hadirkan Koleksi Unbreakable Bond di Bandung
Sesi ketiga, bertema “Managing Gen Z & National Resilience: Preserving Identity, Shaping the Future”, menghadirkan Dirgayuza Setiawan dan Lanny Wijaya. Diskusi dimulai dengan pemaparan mengenai pemanfaatan teknologi, kecerdasan buatan (AI), soft & hard skill, serta green skill sebagai kunci menghadapi tantangan dunia kerja di masa depan.
Selain itu, keduanya menekankan pentingnya pengembangan profesional T-shaped dan penerapan growth mindset. Dengan pendekatan ini, Generasi Z dapat berkembang, berinovasi, dan tetap relevan di industri yang terus berubah, sekaligus siap menghadapi tuntutan kolaborasi lintas generasi.