Sejarah Earth Hour 2026: Dari Aksi Simbolis di Sydney hingga Gerakan Global Hemat Energi Dunia

BeritaBandungRaya.com – Perayaan Earth Hour 2026 kembali digelar secara serentak di berbagai belahan dunia pada Sabtu, 28 Maret 2026. Momentum tahunan ini mengajak masyarakat mematikan lampu dan perangkat elektronik selama satu jam, mulai pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat, sebagai bentuk nyata dukungan terhadap gerakan hemat energi dan kepedulian terhadap lingkungan.

Earth Hour bukan sekadar aksi simbolis. Gerakan ini menjadi salah satu kampanye lingkungan terbesar di dunia yang mendorong individu, komunitas, pelaku usaha, hingga pemerintah untuk terlibat dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan bumi.

Tahun ini, Earth Hour memiliki makna khusus karena menandai 20 tahun perjalanan gerakan global yang diinisiasi oleh World Wide Fund for Nature (WWF). Selama dua dekade, Earth Hour telah berkembang menjadi simbol aksi kolektif yang menyatukan jutaan orang dari lebih dari 190 negara.

Berawal dari Sydney, Kini Mendunia

Sejarah Earth Hour bermula di Sydney, Australia, pada 31 Maret 2007. Saat itu, WWF Australia menginisiasi aksi mematikan lampu selama satu jam sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran terhadap perubahan iklim.

Baca Juga: Apa Itu “Furab”? Istilah Viral di Media Sosial yang Bikin Penasaran

Aksi sederhana tersebut mendapat sambutan luas dari masyarakat. Dalam waktu singkat, Earth Hour berkembang pesat menjadi gerakan global yang melibatkan kota-kota besar, ikon dunia, hingga komunitas lokal di berbagai negara.

Sejak awal kemunculannya, momen “switch off” atau mematikan lampu menjadi ciri khas Earth Hour. Namun, seiring waktu, gerakan ini tidak hanya berhenti pada simbol, melainkan juga mendorong perubahan nyata, termasuk advokasi kebijakan lingkungan dan kampanye pengurangan emisi karbon.

Earth Hour 2026: Lebih dari Sekadar Mematikan Lampu

Mengutip informasi resmi, Earth Hour merupakan momen persatuan global yang bertujuan menyoroti krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Selain mematikan lampu, masyarakat juga diajak memanfaatkan 60 menit tersebut untuk melakukan aktivitas positif bagi planet, seperti refleksi, edukasi lingkungan, hingga aksi nyata.