BeritaBandungRaya.com – Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) penyandang disabilitas di Kota Bandung, Jawa Barat, diduga mengalami perundungan (bullying) hingga akhirnya berhenti bersekolah. Siswa tersebut diketahui memiliki keterlambatan bicara (speech delay).
Kasus ini mencuat setelah Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membagikan pengalamannya bertemu seorang anak difabel saat agenda siskamling beberapa waktu lalu. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Farhan menegaskan komitmen Pemerintah Kota Bandung dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif bagi seluruh anak.
BACA JUGA: 23 Paskal Resmi Jadi Rumah Baru Komunitas Bandung Lewat Event “Bandung Starts Here 2026”
“Setiap anak berhak merasa aman di sekolah. Tak ada ruang untuk bullying. Pemerintah Kota Bandung terus berupaya semaksimal mungkin,” tulis Farhan, Selasa (20/1/2026).
Unggahan tersebut langsung menarik perhatian publik. Selain itu, warganet ramai mendiskusikan kesiapan sekolah umum dalam melindungi siswa berkebutuhan khusus dari praktik perundungan.
Penjelasan Dinas Pendidikan Kota Bandung
Menanggapi sorotan tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung segera memberikan klarifikasi. Kepala Disdik Kota Bandung, Asep Gufron, menyatakan peristiwa itu terjadi beberapa bulan lalu ketika korban masih duduk di kelas VII SMP.
Menurut Asep, sejak awal pihak sekolah telah memantau kondisi siswa yang bersangkutan. Bahkan, tim psikologi sekolah bersama dinas telah melakukan asesmen secara menyeluruh.
“Tim psikologi sekolah dan dinas sudah melakukan asesmen. Dari hasil pemeriksaan, kami merekomendasikan agar anak ini bersekolah di sekolah berkebutuhan khusus,” ujar Asep.
Selain itu, Asep mengungkapkan bahwa dua kakak korban sebelumnya telah bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun demikian, orang tua memilih mendaftarkan anak tersebut ke SMP reguler.











