Siswa SMP Disabilitas di Bandung Diduga Jadi Korban Bullying hingga Putus Sekolah

Disdik: Dugaan Berawal dari Kesalahpahaman

Terkait dugaan perundungan, Asep menjelaskan bahwa laporan sementara mengarah pada kesalahpahaman antar siswa. Kondisi keterlambatan bicara diduga memengaruhi interaksi sosial korban dengan teman-temannya.

“Karena bicaranya terbata-bata, bisa saja teman-temannya bercanda tanpa maksud buruk, lalu anak ini merasa tersinggung. Meski begitu, kami tetap memprioritaskan asesmen lanjutan,” jelasnya.

Meski muncul dugaan tersebut, Disdik menegaskan komitmen perlindungan hak pendidikan siswa. Hingga kini, pihak sekolah dan dinas masih aktif berkomunikasi dengan orang tua untuk membujuk agar korban kembali melanjutkan pendidikan.

Sebagai alternatif, Disdik menawarkan beberapa opsi, mulai dari kembali ke SMP, bersekolah di SLB, hingga mengikuti program pendidikan kesetaraan.

BACA JUGA: Siswa SMP Disabilitas di Bandung Diduga Jadi Korban Bullying hingga Putus Sekolah

Dorongan Evaluasi Sekolah Inklusif

Kasus ini kembali menyoroti urgensi penguatan pendidikan inklusif serta sistem pencegahan perundungan di sekolah. Pemerhati pendidikan menilai, sekolah tidak cukup hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga harus memastikan lingkungan sosial yang aman bagi siswa difabel.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmennya untuk terus mengevaluasi kebijakan, mekanisme pendampingan, serta kesiapan sekolah dalam menerima dan melindungi siswa berkebutuhan khusus agar kejadian serupa tidak terulang.***