BeritaBandungRaya.com – Grup metal ikonik Slipknot kembali membuat gebrakan besar dalam perjalanan karier mereka. Band asal Iowa yang dikenal dengan topeng dan energi panggung ekstrem ini mengonfirmasi bahwa mereka telah menjual sebagian besar kepemilikan katalog musik mereka kepada perusahaan investasi HarbourView Equity Partners.
BACA JUGA : Corey Taylor Ungkap Kondisi Fisik Menurun: “Mungkin Saya Hanya Punya Lima Tahun Lagi di Slipknot”
Keputusan tersebut langsung menarik perhatian industri, mengingat Slipknot merupakan salah satu band heavy metal paling berpengaruh dengan rekam jejak hampir tiga dekade dan basis penggemar global yang solid.
Ambisi Baru Slipknot di Balik Penjualan Katalog
Langkah strategis ini mendapat penjelasan langsung dari pendiri sekaligus ikon Slipknot, M. Shawn “Clown” Crahan. Dalam pernyataannya, Clown mengisyaratkan rencana besar yang tengah dipersiapkan band.
“Setelah 25 tahun menghadapi bisnis musik, kami menemukan diri kami dengan seorang mitra yang bersedia melanjutkan apa yang telah dimulai Slipknot. Hanya saja, mereka ingin menjadi lebih besar lagi. Bersiaplah. Hail The Knot,” ujar Clown, dikutip dari The Hollywood Reporter.
Pernyataan tersebut memantik spekulasi bahwa Slipknot sedang mempersiapkan fase baru yang jauh lebih ambisius dalam karier musikal mereka.
HarbourView Puji Pengaruh Slipknot di Dunia Musik Metal
Dari pihak HarbourView, kerja sama ini dianggap sebagai pencapaian penting. CEO sekaligus pendiri mereka, Sherrese Clarke, memberikan apresiasi tinggi terhadap pengaruh Slipknot di kancah musik global.
“Musik Slipknot telah mendefinisikan ulang heavy metal dan menciptakan fenomena budaya global,” ujar Clarke.
“Katalog mereka adalah bukti pengaruh, semangat, dan kemampuan artistik mereka yang abadi. Kami bangga terlibat dalam pelestarian dan penguatan warisan ini.”
HarbourView memastikan bahwa kesepakatan tersebut mencakup hak penerbitan (publishing) dan royalti rekaman (recorded royalties), namun nilai transaksi tidak diungkapkan kepada publik.
Meski begitu, laporan Billboard sebelumnya menyebut bahwa kesepakatan tersebut diperkirakan senilai 120 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,8 triliun.












