Strategi Zakat Berbasis Kearifan Lokal, Rumah Amal Salman, Akademizi dan IZI Bahas Tantangan Kesejahteraan Jabar

Sementara itu, Direktur Akademizi, Nana Sudiana, menekankan pentingnya pengelolaan zakat berbasis komunitas agar manfaatnya lebih nyata.

Seminar Interaktif bertema “Tantangan Kesejahteraan di Jawa Barat dalam Perspektif Sosial Budaya dan Strategi Pemberdayaan Berbasis Kearifan Lokal” di Gedung Serba Guna (GSG) Salman ITB, Kamis (21/8).

“Kalau bantuan untuk sekolah, maka benar-benar digunakan untuk sekolah. Kalau untuk ekonomi, harus jadi modal usaha. Dengan begitu dampaknya terasa langsung dan tidak disalahgunakan,” kata Nana.

Ia juga memaparkan potensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di Jawa Barat yang diperkirakan mencapai Rp32 triliun, namun realisasi hingga 2024 baru sekitar Rp6 triliun. Meski demikian, penghimpunan ZIS di Jawa Barat terus menunjukkan tren positif dengan kenaikan rata-rata 25–30 persen setiap tahun.

Menurutnya, potensi ini bisa dimanfaatkan untuk menurunkan angka kemiskinan yang masih cukup tinggi di beberapa daerah, seperti Indramayu, Kuningan, Kota Tasikmalaya, Majalengka, dan Cirebon.

Dewan Pakar Salman ITB, Budiana Kartawijaya, menambahkan bahwa kemiskinan tidak bisa hanya dipahami dari angka statistik.

Baca Juga: Pertama di Indonesia, Pintu Hadirkan Fitur Price Protection untuk Perdagangan Derivatif Crypto

“Nelayan merasa miskin kalau tidak punya jala, petani merasa miskin kalau tidak punya cangkul, sementara ibu rumah tangga merasa miskin kalau anaknya tidak makan atau tidak punya air bersih. Maka, zakat harus benar-benar menyentuh kebutuhan riil sesuai konteks budaya,” ujarnya.