“Jujur saja, saya tahu kondisi di lapangan. Rata-rata memang tidak bertindak tegas. Polisi hutannya banyak yang sudah tua dan tidak lagi dibekali perlengkapan memadai,” ujar Dedi di Bandung, Jumat (23/1/2026) malam.
Dedi menduga aktivitas perburuan liar di kawasan Gunung Sanggabuana bukan kejadian baru. Akses yang relatif terbuka membuat kawasan tersebut rawan dimasuki pemburu satwa dilindungi.
Sebagai langkah konkret, Dedi mendorong Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama aparat penegak hukum untuk memperkuat patroli dan penindakan di lapangan.
“Masalah kita dari dulu itu satu, pembiaran. Saya minta semua jajaran di Sanggabuana melakukan tindakan tegas terhadap siapa pun yang masuk untuk berburu,” ujarnya.
Baca Juga: Hasil Foto HP Pecah dan Blur? Ini Kesalahan Umum Pengguna Kamera Smartphone serta Cara Mengatasinya
Macan Tutul Pincang Picu Kemarahan Publik
Kasus ini mencuat setelah video seekor macan tutul terlihat berjalan pincang akibat luka di kaki kiri bagian depan viral di media sosial. Rekaman tersebut berasal dari kamera trap yang dipasang Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) di lereng timur Pegunungan Sanggabuana.
Pembina SCF, Bernard Triwinarta Wahyu Wiryanta, membenarkan keaslian video tersebut dan menyebut rekaman diambil pada Oktober 2025. Kamera yang sama juga merekam keberadaan pemburu liar yang melintas bersama anjing dan berupaya merusak alat pemantau satwa.
Video tersebut memantik kemarahan warganet. Banyak pihak menandai akun Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi agar pemerintah turun tangan menindak tegas pelaku perburuan liar.
Polda Jabar Tangkap Lima Pemburu Liar
Menindaklanjuti kasus tersebut, Polda Jawa Barat bergerak cepat dan menangkap lima orang terduga pemburu liar di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, Karawang.




