Talkshow “Ibu Tangguh, Negeri Tumbuh” Soroti Peran Ibu dalam Ekonomi, Media, dan Ruang Aman Perempuan

Perempuan Rentan di Kota, Ruang Aman Masih Terbatas

Aktivis Sapa Institut, Sri Mulyati, menyoroti kontras antara kemajuan perempuan di desa dan kondisi keamanan perempuan di kota, khususnya Bandung.

Ia menyebut sekitar 90 persen korban kekerasan di Jawa Barat adalah perempuan, dan satu dari dua pengguna transportasi publik pernah melihat atau mengalami kekerasan seksual.

“Perempuan tiga kali lebih rentan menjadi korban. Di desa, perempuan mulai jadi pengambil keputusan, tapi di kota ruang aman justru minim,” katanya.

Sri juga menyoroti hambatan akses teknologi bagi perempuan lansia dan ibu rumah tangga akibat digitalisasi layanan publik yang belum inklusif gender.

Refleksi: Ketangguhan Tidak Boleh Jadi Beban

Pakar komunikasi dan akademisi Dr. Husnita mengingatkan bahwa label “perempuan tangguh” tidak boleh menjadi tekanan sosial baru.

“Jika perempuan disebut tangguh, seharusnya tidak ada lagi pembatasan karier karena status ibu. Kebijakan negara harus memberi ruang setara,” ujarnya.

Ia juga mengajak perempuan berani menentukan pilihan hidup secara sadar tanpa rasa bersalah, serta meminta media tidak mendramatisasi penderitaan perempuan demi klik.

BACA JUGA: Jadwal Puasa Rajab 1447 Hijriah Lengkap: Awal Bulan, Niat, dan Keutamaannya

Media Punya Peran Membangun Makna

Ketua JLB, Dini Budiman, menegaskan isu perempuan bukan agenda seremonial tahunan, melainkan komitmen jangka panjang.

“Media tidak hanya melaporkan peristiwa, tapi membangun makna. Kami ingin menghadirkan cerita tentang perempuan secara adil, manusiawi, dan berdaya,” ujarnya.

Ia menambahkan tema “Ibu Tangguh, Negeri Tumbuh” mencerminkan keyakinan bahwa penguatan perempuan berarti menumbuhkan harapan masa depan bangsa.***