3. Fokus pada Sektor Defensif
Sektor defensif dinilai lebih tahan terhadap tekanan ekonomi karena produknya tetap dibutuhkan masyarakat dalam berbagai kondisi.
Beberapa sektor yang sering dianggap defensif antara lain:
-
Konsumsi rumah tangga
-
Kesehatan dan farmasi
-
Telekomunikasi
Saham di sektor ini cenderung lebih stabil dibanding sektor siklikal saat pasar bergejolak.
4. Terapkan Strategi Dollar Cost Averaging (DCA)
Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau pembelian saham secara bertahap dinilai efektif ketika pasar masih mencari titik keseimbangan.
Dengan membeli secara berkala, investor bisa mendapatkan harga rata-rata yang lebih baik sekaligus mengurangi risiko salah timing.
5. Perhatikan Emiten yang Melakukan Buyback Saham
Aksi buyback saham dapat menjadi sinyal positif bahwa manajemen perusahaan percaya terhadap prospek bisnisnya sendiri.
Selain menunjukkan kepercayaan diri manajemen, buyback juga berpotensi menahan penurunan harga saham di pasar.
6. Sesuaikan dengan Tujuan Investasi
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia, Dandy, mengingatkan investor untuk selalu kembali pada tujuan investasi sebelum mengambil keputusan.
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, saham lebih cocok bagi investor dengan orientasi jangka panjang. Untuk jangka pendek, saham memiliki risiko yang lebih tinggi kecuali digunakan untuk strategi trading aktif.
BACA JUGA: Harga Emas Antam Hari Ini Sabtu 7 Februari 2026 Stabil di Rp 2.890.000 per Gram
7. Hindari FOMO dan Lakukan Diversifikasi
Investor disarankan tidak membeli saham hanya karena sentimen sesaat atau berita positif yang viral. Analisis fundamental tetap menjadi kunci utama.
Bagi pemula, memilih saham yang masuk indeks utama seperti LQ45, IDX30, IDX80, atau Kompas100 bisa menjadi langkah awal yang lebih aman.
Selain itu, diversifikasi portofolio dan menghindari strategi all-in pada satu saham sangat dianjurkan untuk mengelola risiko.











