5) Pelajari Hak dan Konsekuensi Hukum di Dua Negara
Pernikahan campuran membuat kalian berhadapan dengan dua sistem hukum. Kalau terjadi sengketa harta, perceraian, atau hak asuh, aturan yang berlaku bisa berbeda dari yang kamu kira.
Karena itu, lakukan langkah protektif ini:
-
pahami aturan harta bersama dan kepemilikan aset,
-
cek konsekuensi pajak dan kewajiban pelaporan lintas negara,
-
konsultasikan kasus spesifik jika kalian punya aset besar, bisnis, atau rencana domisili berbeda.
Intinya, kamu tidak bersikap pesimis. Kamu justru mengelola risiko sejak awal.
6) Pertimbangkan Perjanjian Pranikah: Fokus pada Kejelasan, Bukan Kecurigaan
Banyak orang menilai perjanjian pranikah sebagai tanda tidak percaya. Padahal, perjanjian ini berfungsi administratif dan protektif. Terutama untuk pernikahan lintas negara, perjanjian pranikah membantu kalian mengatur pembagian harta, tanggung jawab finansial, dan perlindungan bila situasi berubah.
Dengan kata lain, kamu menyusun kejelasan agar tidak muncul ruang tafsir saat masalah terjadi.
BACA JUGA: Cuaca Ekstrem dan Hujan Lebat, Ini Cara Menjaga Daya Tahan Tubuh Tetap Optimal
7) Buat Rencana Integrasi Keluarga: Putuskan Sebelum Konflik Muncul
Banyak pasangan membahas hal besar terlalu terlambat. Padahal, kalian perlu menata integrasi keluarga sejak sebelum menikah, misalnya:
-
negara domisili untuk 3–5 tahun ke depan,
-
bahasa komunikasi di rumah,
-
intensitas hubungan dengan keluarga besar,
-
rencana anak: pendidikan, kewarganegaraan, dan nilai budaya yang ingin diwariskan.
Karena itu, putuskan topik ini sebelum menikah, bukan setelah konflik muncul.







