Kerugian ekonomi akibat bencana ini diperkirakan mencapai lebih dari US$610 juta atau sekitar Rp9,64 triliun, menurut data pemerintah Vietnam. Pemerintah kini tengah menggerakkan pasukan militer dan layanan darurat untuk mengevakuasi warga serta memperbaiki infrastruktur yang rusak.
Dalam sembilan bulan pertama tahun ini saja, 187 orang di Vietnam telah meninggal atau hilang akibat bencana alam seperti badai, banjir, dan longsor. Negara ini memang termasuk dalam kawasan topan tropis paling aktif di dunia, dengan rata-rata 10 badai tropis setiap tahun. Namun, hingga 2025, jumlahnya meningkat menjadi 12 topan, menandakan tren cuaca ekstrem yang makin memburuk.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Persib Bandung November 2025: Tur Tiga Negara, Tantangan Berat Menanti Maung Bandung
Para ilmuwan menilai, perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi faktor utama meningkatnya intensitas badai dan curah hujan ekstrem di kawasan Asia Tenggara. “Pemanasan global membuat badai lebih kuat dan banjir lebih sering terjadi,” kata sejumlah peneliti dalam laporan yang dikutip dari media internasional.
Pemerintah Vietnam telah mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi hujan deras dan tanah longsor susulan, mengingat prakiraan cuaca menunjukkan curah hujan tinggi masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.***







