BeritaBandungRaya.com – Pinjaman online atau pinjol kerap menjadi solusi instan saat kebutuhan finansial datang mendesak. Proses cepat, tanpa tatap muka, dan pencairan dana yang mudah membuat layanan ini semakin diminati masyarakat.
Namun di balik kemudahan tersebut, pinjol menyimpan risiko serius, terutama terhadap kesehatan mental. Jika digunakan berulang tanpa kontrol, pinjol dapat memicu ketergantungan yang sulit dihentikan.
Pinjol dan Risiko Psikologis di Baliknya
Psikolog Meity Arianty menjelaskan bahwa kecanduan pinjol tidak hanya berkaitan dengan keuangan, tetapi juga kondisi emosional seseorang.
Menurutnya, pinjol memberikan efek gratifikasi instan, yaitu rasa lega sesaat ketika dana berhasil cair. Namun, efek ini hanya sementara.
BACA JUGA: Waspada! Ini 5 Tempat Persembunyian Ular di Rumah yang Sering Tak Disadari
“Saat seseorang tertekan secara finansial atau emosional, solusi cepat seperti pinjol terasa menenangkan. Padahal, risikonya akan muncul di kemudian hari,” jelas Meity.
Ketika tagihan datang, rasa stres justru kembali dengan intensitas lebih tinggi. Siklus ini bisa berulang dan membentuk kebiasaan yang berujung pada ketergantungan.
Mengapa Pinjol Bisa Membuat Ketergantungan?
Secara psikologis, pola penggunaan pinjol terbentuk dari mekanisme sederhana:
- Cemas atau tertekan → mencari solusi cepat
- Pinjol cair → muncul rasa lega
- Tagihan datang → stres meningkat
- Mengulang pinjol → untuk meredakan stres
Dalam jangka panjang, otak “belajar” bahwa pinjol adalah cara tercepat untuk mengatasi masalah, meskipun sebenarnya memperburuk kondisi.












