BeritaBandungRaya.com – Skor kredit digital kini menjadi salah satu indikator utama dalam menilai kelayakan finansial seseorang. Sistem ini banyak digunakan oleh lembaga keuangan, platform fintech, hingga layanan PayLater untuk menentukan apakah seseorang layak menerima kredit. Namun di balik kemudahan akses tersebut, terdapat sejumlah risiko jangka panjang yang sering kali luput dari perhatian, khususnya di kalangan generasi muda.
Penggunaan PayLater yang tidak disertai perencanaan matang berpotensi meninggalkan jejak finansial yang berdampak luas pada masa depan.
BACA JUGA: Telat Bayar Shopee PayLater? Ini Risiko Serius yang Perlu Diwaspadai
Jejak Finansial yang Sulit Dihapus
Setiap riwayat keterlambatan pembayaran, termasuk cicilan PayLater dengan nominal kecil, akan tercatat dalam sistem skor kredit digital. Catatan ini tidak langsung hilang meski utang telah dilunasi dan dapat memengaruhi reputasi finansial seseorang dalam jangka panjang.
Akses Kredit Masa Depan Terancam
Skor kredit digital yang rendah dapat berdampak serius terhadap akses pembiayaan di masa depan, seperti:
-
Pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
-
Kredit kendaraan bermotor
-
Pinjaman modal usaha produktif
Kesalahan pengelolaan keuangan di usia muda berpotensi menghambat rencana finansial besar di kemudian hari.
Penilaian Otomatis Minim Pertimbangan
Berbasis algoritma, sistem skor kredit digital cenderung menilai keterlambatan pembayaran secara kaku. Faktor darurat atau kondisi tertentu sering kali tidak diperhitungkan, sehingga pengguna tetap menerima penilaian negatif meskipun keterlambatan bersifat situasional.







