Dari sisi pendanaan, BRI berfokus pada upaya memperbesar basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem. BRI juga terus memaksimalkan kapabilitas digital channel mulai dari akuisisi merchant, penguatan transaksi BRImo, QRIS hingga BRILink Agen, sekaligus memperkokoh dominasi pada klaster bisnis, integrasi value chain, serta penetrasi One BRI Solution.
Pada saat yang sama, BRI terus memperkuat bisnis mikro sebagai kekuatan utama perseroan melalui penyempurnaan proses bisnis, penguatan kapabilitas tenaga pemasar atau mantri, serta implementasi manajemen risiko yang semakin granular. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pertumbuhan bisnis mikro berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas aset.
Selain memperkuat bisnis inti, perseroan juga mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui akuisisi value chain dan ekosistem, penyempurnaan product value proposition dan targeting untuk memperoleh nasabah berkualitas, serta perluasan layanan bullion bank.
“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan. Berbagai agenda tersebut telah kami eksekusi dan mulai memberikan dampak positif terhadap fundamental maupun kinerja keuangan BRI,” ujar Hery.
Implementasi berbagai agenda transformasi tersebut tercermin pada kinerja BRI hingga akhir Triwulan II 2026. Secara konsolidasian, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% yoy. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit dan pembiayaan yang meningkat 16,2% yoy menjadi Rp1.646 triliun.







