Okupansi Hotel di Bandung Tembus 100 Persen Saat Libur Tahun Baru 2026

BeritaBandungRaya.com – Lonjakan kunjungan wisatawan ke Kota Bandung selama momentum libur pergantian tahun 2025/2026 berdampak signifikan terhadap tingkat hunian hotel, khususnya di kawasan pusat kota. Sejumlah hotel bahkan dilaporkan mencatat okupansi hingga 100 persen pada malam Tahun Baru.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menyebut peningkatan tingkat hunian hotel terlihat jelas berdasarkan hasil monitoring langsung yang dilakukan jajarannya di lapangan.

“Saat malam Tahun Baru, kami melakukan monitoring langsung ke sekitar belasan hotel. Dari laporan yang kami terima, hotel di pusat kota tingkat huniannya penuh, bahkan ada yang mencapai 100 persen,” ujar Adi, Minggu (4/1/2026).

BACA JUGA: 10 Rekomendasi Bubur Ayam Legendaris di Bandung, Kental, Gurih, dan Favorit Warga

Pusat Kota Jadi Magnet Wisatawan

Menurut Adi, tingginya okupansi hotel di pusat kota menjadi indikator kuat bahwa Bandung masih menjadi destinasi favorit wisatawan, terutama saat libur panjang dan perayaan akhir tahun.

Kawasan pusat kota dinilai memiliki daya tarik yang lebih kuat karena menjadi pusat aktivitas wisata, kuliner, serta hiburan. Kedekatan dengan destinasi unggulan dan akses transportasi utama membuat wisatawan cenderung memilih menginap di wilayah tersebut.

Namun demikian, peningkatan hunian hotel tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Kota Bandung.

Hotel di Pinggiran Kota Catat Okupansi 60–80 Persen

Adi mengungkapkan hotel-hotel yang berlokasi di luar pusat destinasi wisata atau relatif jauh dari pusat kota masih mencatat tingkat hunian yang lebih rendah dibandingkan hotel di pusat kota.

“Untuk hotel yang lokasinya agak jauh dari pusat destinasi, rata-rata okupansinya berada di kisaran 60 sampai 70 persen. Ada juga yang mencapai 80 persen, tapi memang tidak sampai penuh,” jelasnya.

Kondisi ini menunjukkan adanya konsentrasi pergerakan wisatawan pada titik-titik tertentu di Kota Bandung, sehingga manfaat ekonomi dari sektor pariwisata belum sepenuhnya dirasakan secara merata.