“Saya sekarang lagi di fase yang bertanya-tanya tentang 10 tahun ke depan. Tapi saya belajar menjalani hari ini sebaik mungkin karena besok pada akhirnya adalah hari ini yang akan datang,” ujarnya. Sebagai musisi yang tumbuh sejak kecil melalui project “Di Atas Rata-Rata”, Rafi mengaku perjalanan waktu turut mengubah pendekatan bermusiknya.
Ia menyebut penulisan lagu menjadi aspek yang paling berkembang dalam dirinya. Dari ketertarikan pada RnB hingga kini lebih condong ke pop Indonesia, Rafi terus berusaha menemukan cara menyampaikan cerita yang dapat beresonansi dengan pendengar.
Dia menambahkan, satu elemen yang menurutnya tidak pernah hilang adalah saksofon. “Saya sempat berhenti memainkan saksofon, tapi akhirnya sadar itu adalah identitas saya,” katanya.
Sementara itu, Bandung dipilih sebagai kota penutup bukan tanpa alasan. Bagi Rafi, Kota Kembang memiliki hubungan emosional yang kuat karena antusiasme penonton yang selalu tinggi setiap kali ia tampil. “Saya selalu semangat kalau tampil di Bandung. Rasanya seperti pulang ke rumah kedua,” ujarnya.
Konser di Hotel Moxy Bandung juga menjadi pengalaman baru bagi Rafi karena untuk pertama kalinya ia tampil dalam format konser hotel bersama kolaborator album. Dalam penampilan berdurasi sekitar 90 menit itu, ia turut menghadirkan penampilan spesial bersama GAC.












