-
memperoleh akses kepada anak atau remaja
-
mendapatkan kepercayaan dan kepatuhan korban
-
mendapatkan materi seksual
-
menjaga korban agar tetap diam
-
menghindari terungkapnya pelecehan
Bagaimana Proses Grooming Terjadi?
Menurut berbagai lembaga perlindungan anak, grooming umumnya berlangsung melalui beberapa tahapan. Namun, tahapan ini tidak selalu berurutan dan bisa berbeda pada setiap kasus.
1. Menargetkan Korban
Pelaku cenderung menyasar anak atau remaja yang terlihat rentan, kurang percaya diri, terisolasi secara sosial, atau berasal dari lingkungan tertentu yang dianggap mudah dimanipulasi.
2. Membangun Kepercayaan
Pelaku menampilkan diri sebagai sosok yang baik, perhatian, dan dapat dipercaya. Pemberian hadiah, pujian berlebihan, atau perhatian khusus sering digunakan untuk mendekatkan diri dengan korban dan keluarganya.
3. Isolasi
Korban secara perlahan dijauhkan dari orang-orang terdekatnya. Pelaku berusaha menjadi satu-satunya tempat bergantung, baik secara emosional maupun praktis.
4. Seksualisasi
Pelaku mulai menormalisasi percakapan atau konten seksual, lalu secara bertahap mendorong korban ke perilaku yang lebih jauh, baik secara langsung maupun daring.
5. Kontrol
Pelaku menggunakan rasa takut, rasa bersalah, ancaman, atau manipulasi emosional untuk memastikan korban tetap diam dan bergantung.
Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Grooming
Mengenali tanda grooming sejak dini sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih serius. Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:







