2. Chris Lake – Chemistry
Chemistry menandai perubahan besar Chris Lake dari musisi yang identik dengan lagu-lagu single menjadi kreator album penuh yang terstruktur dari awal hingga akhir.
Kekuatan ritme, groove, dan rangkaian house anthem membuat album ini menjadi “amunisi wajib” para DJ di festival.
Lake tidak berusaha mengejar momen pop crossover—justru Chemistry hadir sebagai bukti bahwa house adalah medium produser: permainan tensi, build-up, dan drop yang dieksekusi dengan presisi tinggi.
3. Anyma – The End of Genesys
Penutup dari trilogi konseptualnya, The End of Genesys mendorong batasan pertunjukan elektronik modern. Album ini dirilis bersamaan dengan konsep live spektakuler Anyma di The Sphere Las Vegas, menghadirkan narasi visual yang terintegrasi dengan musik.
Kombinasi futurisme, seni digital, dan produksi panggung imersif membuat album ini menjadi salah satu rilis paling dibicarakan dalam budaya EDM global tahun lalu—sebuah bukti bagaimana musik elektronik kini semakin berkelindan dengan seni visual.
4. Knock2 – nolimit
Album nolimit memperkuat posisi Knock2 sebagai salah satu talenta muda yang benar-benar mengubah bahasa musik klub modern.
Melalui campuran bass house, Jersey Club, trap, electro, dan vokal pop yang enerjik, Knock2 menciptakan gaya khas yang dibuat untuk lantai dansa berenergi cepat.
Tidak berlebihan jika album ini disebut sebagai karya yang “mendorong batas” bagi generasi produser baru.
5. DJ Koze – Music Can Hear Us
Berbeda dengan album dance arus utama yang berorientasi pada euforia besar, DJ Koze menghadirkan sesuatu yang intim dan teliti.
Music Can Hear Us menonjol lewat eksplorasi tekstur suara dan tempo yang lembut, menghasilkan karya yang cocok untuk didengarkan secara personal, bukan hanya di klub atau festival.
Album ini menjadi pengingat bahwa pengaruh musik elektronik tidak selalu datang dari panggung besar—kadang justru dari ruang-ruang kecil tempat orang mendengarkan musik sehari-hari.












