BeritaBandungRaya.com – Perbedaan latar belakang ekonomi sering kali memengaruhi cara pandang, pola pikir, hingga perilaku seseorang. Dalam konteks sosial, perbedaan ini kerap menimbulkan kesalahpahaman antara kelompok masyarakat, khususnya antara kelas menengah dan kelas atas.
Dalam kajian Psikologi Sosial, perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan pengalaman hidup. Karena itu, tidak jarang perilaku kelas menengah dipersepsikan berbeda oleh kalangan atas.
BACA JUGA: 10 Jurusan Kuliah Terbaik untuk Perempuan Introvert 2026, Minim Interaksi tapi Prospek Cerah
1. Terlalu Menekankan pada Tabungan
Kelas menengah cenderung fokus pada menabung untuk kebutuhan masa depan seperti pendidikan, rumah, atau dana darurat. Namun, kelas atas sering melihat pendekatan ini sebagai kurang visioner.
Sebaliknya, mereka lebih menekankan investasi sebagai cara mengembangkan kekayaan. Perbedaan ini muncul karena perbedaan akses terhadap sumber daya finansial.
2. Memprioritaskan Kenyamanan daripada Kemewahan
Pilihan yang praktis dan fungsional menjadi ciri khas kelas menengah. Baik dalam memilih pakaian, kendaraan, maupun hunian, kenyamanan sering menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, kelas atas cenderung menilai hal tersebut sebagai kurang ambisius, karena mereka lebih terbiasa dengan standar kemewahan.
3. Mencari Validasi atas Kesuksesan
Bagi kelas menengah, pencapaian seperti promosi kerja atau memiliki rumah sering menjadi simbol keberhasilan yang diakui secara sosial.
Namun, kelas atas lebih banyak mengukur kesuksesan berdasarkan kepuasan pribadi dan pencapaian internal. Perbedaan ini membuat sebagian perilaku kelas menengah dianggap terlalu bergantung pada penilaian orang lain.












