Sebagian besar anak yang menjadi objek survei berada pada rentang usia 1–3 tahun, sebuah periode emas yang membutuhkan nutrisi optimal. “Penelitian ini berlandaskan asumsi bahwa banyak orang tua yang salah kaprah dan menilai kental manis adalah bagian dari susu pertumbuhan. Padahal kandungan gizinya rendah dan lebih banyak mengandung gula,” jelas Ketua Tim Peneliti Fikom Unisba, Firmansyah.

Menariknya, survei tersebut mencatat mayoritas responden berpendidikan tinggi (sarjana). Ini menandakan bahwa fenomena salah kaprah nutrisi bukan sekadar masalah tingkat pendidikan, melainkan dipengaruhi oleh budaya keluarga, kebiasaan turun-temurun, faktor ekonomi, hingga pengaruh paparan iklan selama puluhan tahun.
Keterkaitan antara riset Unisba dan peringatan Kemenkes memperlihatkan garis sebab-akibat yang nyata. Ketika 67,6% orang tua memberikan kental manis sebagai pengganti susu pada anak, bahwa, anak tidak hanya kehilangan nutrisi esensial untuk tinggi badan dan perkembangan otak, tetapi juga terus terpapar gula berlebih sejak dini.
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi seluruh pihak. Kebijakan pembatasan GGL dari pemerintah tidak akan berjalan efektif tanpa adanya pergeseran persepsi di tingkat rumah tangga.
Baca Juga: Persib vs Persebaya: Statistik, Rekor Pertemuan dan Duel Striker di Final Piala Presiden












