Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan, keberadaan Bandara Husein Sastranegara dan Bandara Kertajati ke depan akan memiliki fungsi yang berbeda. Pembagian peran tersebut telah dibicarakan dengan pemerintah pusat, termasuk Presiden.
Bandara Husein Sastranegara akan diarahkan untuk menangani aktivitas penerbangan komersial harian. Sementara itu, Bandara Kertajati diproyeksikan memiliki fungsi yang lebih strategis, mulai dari mendukung industri pertahanan nasional hingga melayani keberangkatan jemaah haji dan umrah.
Dedi berharap kawasan Kertajati dapat berkembang sebagai salah satu pusat industri pertahanan dalam negeri. Sejumlah perusahaan strategis nasional, seperti PT Dirgantara Indonesia dan Pindad, disebut diharapkan dapat berpusat atau memiliki aktivitas utama di kawasan tersebut.
“Kita berharap Bandara Kertajati dapat menjadi pusat industri pertahanan dalam negeri dan digunakan untuk pesawat-pesawat militer,” tutur Dedi.
Dengan pembagian tersebut, reaktivasi Bandara Husein Sastranegara tidak berarti seluruh fungsi Bandara Kertajati akan dialihkan ke Kota Bandung. Kedua bandara justru dipersiapkan untuk menjalankan fungsi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan konektivitas dan strategi pembangunan Jawa Barat.
Baca Juga: Hilton Padalarang Bandung Resmi Dibuka, Hadirkan 218 Kamar dan Fasilitas Hospitality Kelas Dunia
Dedi juga memberikan penegasan mengenai layanan penerbangan untuk keperluan ibadah. Menurutnya, penerbangan haji dan umrah tetap akan dipusatkan melalui Bandara Kertajati.













