Konsolidasi Harga Dinilai Sebagai Tanda Stabilitas
Rodda menilai konsolidasi harga emas yang terjadi belakangan ini bukan menunjukkan melemahnya daya tarik emas, melainkan pasar sedang menyerap level harga yang lebih tinggi secara alami.
Menurutnya, tidak adanya aksi jual besar-besaran menunjukkan bahwa investor jangka panjang masih mendominasi pasar emas.
“Kembalinya emas ke perdagangan yang lebih tenang dan terbatas pada kisaran harga tertentu pada akhirnya mungkin menunjukkan stabilitas daripada stagnasi,” jelasnya.
Hal ini dinilai menjadi sinyal positif bahwa emas masih berpotensi naik kembali dalam jangka menengah.
Pembelian Bank Sentral Jadi Sentimen Positif
Sementara itu, analis komoditas di Commerzbank AG, Barbara Lambrecht, menyoroti pembelian emas oleh bank-bank sentral global sebagai faktor penting yang perlu diperhatikan investor.
Menurutnya, meskipun permintaan fisik emas sempat terhambat, tingkat ketidakpastian global yang masih tinggi dan potensi kebijakan Federal Reserve yang lebih lunak menjadi katalis kuat bagi kenaikan harga emas.
“Secara keseluruhan, dapat diasumsikan bahwa meskipun permintaan fisik emas telah terhambat sementara, tetapi mengingat tingkat ketidakpastian yang tinggi dan kebijakan Federal Reserve yang kemungkinan akan lebih lunak daripada di masa lalu, kami melihat potensi harga emas untuk naik kembali dalam jangka menengah,” ujarnya.
BACA JUGA: Pria Penodong Diduga Pistol di SPBU Bandung Akhirnya Ditangkap Polisi
Investor Diminta Tetap Waspada
Dengan kondisi pasar global yang masih penuh ketidakpastian, emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang paling banyak dipilih sebagai safe haven.
Para analis menyarankan investor untuk terus memantau perkembangan geopolitik internasional, kebijakan suku bunga The Fed, serta aktivitas pembelian bank sentral sebagai indikator utama pergerakan harga emas ke depan.
Jika sentimen positif terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga emas kembali melesat dan menembus level tertinggi baru dalam waktu mendatang.***








