BeritaBandungRaya.com – Bank of America (BofA) tetap mempertahankan pandangan optimistis terhadap pergerakan harga emas dunia, meskipun pasar logam mulia tengah mengalami tekanan dalam jangka pendek.
Dalam laporan terbarunya, BofA menyebut harga emas diperkirakan masih akan berfluktuasi dalam waktu dekat. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, prospek kenaikan dinilai tetap kuat.
BACA JUGA: Cuaca Panas Ekstrem Melanda Indonesia, BMKG Ungkap Penyebab dan Imbauan untuk Warga
Target Emas US$ 6.000 dalam 13 Bulan
BofA memproyeksikan harga emas dapat mencapai level US$ 6.000 per ons dalam 13 bulan ke depan.
Selain itu, bank tersebut juga meningkatkan proyeksi rata-rata harga emas untuk tahun 2026 menjadi US$ 5.093 per ons, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar US$ 4.988 per ons.
Proyeksi ini menunjukkan keyakinan bahwa tren jangka panjang emas masih mengarah ke penguatan.
Tertekan Sentimen Minyak dan Inflasi
Dalam jangka pendek, harga emas mengalami tekanan akibat kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi global.
Kondisi ini memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve, yang pada akhirnya berdampak pada pergerakan harga emas.
“Emas dan minyak memiliki korelasi terbalik dalam kondisi tertentu, terutama ketika kekhawatiran inflasi meningkat,” tulis analis BofA.
Ketidakpastian Ekonomi Jadi Pendorong
Meski demikian, BofA menilai ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor utama yang mendukung kenaikan harga emas.
Beberapa faktor yang mendorong permintaan emas antara lain:










