Popularitas jaipongan yang dikembangkan Gugum Gumbira serta lagu-lagu berbahasa Sunda yang dikenal luas menjadi bagian dari dinamika kebudayaan pada masa tersebut. Musik Pop Sunda pun berkembang sebagai salah satu bentuk ekspresi yang membuat bahasa dan identitas lokal tetap hadir dalam kehidupan masyarakat.
Baca Juga: BRI Life melalui BRI Soekarno Hatta Serahkan Klaim AJK KPR Rp1,11 Miliar
Bagi Happy Salma, periode itu juga menyimpan kenangan pribadi. Ia mengingat lagu-lagu Sunda yang kerap dinyanyikan orangtuanya di rumah, termasuk lagu Kalangkang yang dipopulerkan Nining Meida.
Kenangan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa musik Sunda era 1990-an memiliki tempat tersendiri dalam perayaan kali ini.
“Nah, yang menarik karena di era tahun 1990-an, saya juga ingat lagu-lagu yang suka dinyanyikan oleh orangtua saya. Mungkin malam nanti saya akan sing along juga nyanyi Kalangkang sama Teh Nining Meida,” katanya.
Kehadiran musisi yang dikenal melalui lagu-lagu Sunda diharapkan dapat mempertemukan generasi yang tumbuh bersama musik tersebut dengan penonton yang lebih muda. Dengan demikian, lagu daerah tidak hanya menjadi bagian dari kenangan masa lalu, tetapi juga tetap memiliki ruang dalam kehidupan budaya masa kini.
Happy Salma: Budaya Tidak Harus Menunggu Viral
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, Happy Salma menilai pelestarian budaya perlu terus dilakukan tanpa menjadikan popularitas di media sosial sebagai ukuran utama.
Menurutnya, sebuah karya seni tetap memiliki nilai meskipun tidak menjadi perbincangan luas di dunia maya. Keyakinan terhadap nilai budaya itulah yang mendasari penyelenggaraan Lestari Tradisi.













1 komentar
Komentar ditutup.