OpenAI Tutup Sora dan Akhiri Kerja Sama dengan Disney, Fokus ke Robotika

OpenAI Tutup Sora dan Akhiri Kerja Sama dengan Disney, Fokus ke Robotika

BeritaBandungRaya.comOpenAI resmi menghentikan aplikasi pembuat video berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Sora, kurang dari dua tahun setelah peluncurannya yang sempat menghebohkan dunia teknologi.

Pada saat yang sama, OpenAI juga mengakhiri kerja sama konten senilai 1 miliar dolar AS dengan The Walt Disney Company.

Fokus Beralih ke Robotika dan AI Agentic

OpenAI menyatakan keputusan tersebut diambil agar perusahaan dapat fokus pada pengembangan teknologi lain, terutama robotika dan AI “agentic” yang mampu menjalankan tugas secara mandiri dengan minim pengawasan manusia.

BACA JUGA: Jadwal Lengkap Persib Bandung Mei 2026: Penentuan Gelar BRI Super League, Ada Duel Panas kontra Persija

Teknologi yang sebelumnya digunakan untuk melatih Sora dalam menghasilkan video realistis disebut akan dialihkan untuk melatih sistem robot di dunia nyata.

Meski Sora ditutup, OpenAI memastikan fitur pembuat gambar di ChatGPT tetap berjalan dan tidak terdampak.

Sora Dinilai Kurang Menguntungkan

Sejak diperkenalkan pada 2024, Sora memang menarik perhatian global karena kemampuannya menghasilkan video realistis hanya dari perintah teks.

Namun, dari sisi bisnis, performanya dinilai kurang menjanjikan.

Data dari Sensor Tower menunjukkan Sora hanya menghasilkan sekitar 1,4 juta dolar AS secara global, jauh di bawah ChatGPT yang meraih pendapatan hingga 1,9 miliar dolar AS dalam periode yang sama.

Analis menyebut Sora sebagai proyek dengan biaya besar namun monetisasi terbatas.

Dihantui Risiko Konten dan Hak Cipta

Selain faktor bisnis, Sora juga menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari penyebaran misinformasi hingga potensi pelanggaran hak cipta.

Teknologi ini dinilai sulit mengontrol pembuatan konten non-konsensual serta video yang sangat realistis.

Kesepakatan dengan Disney yang sempat memungkinkan penggunaan karakter populer seperti Mickey Mouse dan Yoda juga memicu kekhawatiran di industri hiburan.

Sejumlah pihak menilai teknologi tersebut berpotensi menggantikan peran kreator manusia.