UEA Keluar dari OPEC Belum Mampu Redam Harga
Pasar sempat diguncang kabar keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari Organization of the Petroleum Exporting Countries dan aliansi OPEC+ mulai 1 Mei 2026.
Secara teori, keluarnya UEA dari OPEC dapat menjadi sentimen negatif bagi harga minyak karena membuka peluang peningkatan produksi secara independen.
Namun, analis menilai dampaknya terbatas karena tambahan pasokan sulit tersalurkan selama Selat Hormuz masih tertutup.
Mitra Again Capital, John Kilduff, mengatakan kondisi ini seharusnya menjadi sentimen bearish yang kuat, tetapi situasi geopolitik membuat pasar tetap fokus pada pasokan.
“Dalam kondisi normal, ini akan menjadi sentimen bearish yang kuat bagi pasar minyak dan memicu aksi jual besar,” ujarnya.
Ia memperkirakan UEA mampu menambah produksi hingga 1 hingga 1,5 juta barel per hari, namun distribusinya menjadi masalah utama.
“Dengan Selat Hormuz yang secara efektif tertutup, tidak ada tempat bagi pasokan itu untuk disalurkan, sehingga harga minyak kemungkinan akan terus naik secara bertahap,” tambahnya.
Stok Minyak Global Tertahan di Laut
Gangguan distribusi minyak juga terlihat dari meningkatnya volume minyak yang tertahan di kapal tanker.
Data dari Vortexa menunjukkan volume minyak yang tersimpan di laut selama lebih dari tujuh hari mencapai 153,11 juta barel per 24 April 2026.
Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak Januari dan naik sekitar 25 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Beberapa kapal tanker minyak Iran bahkan dilaporkan terpaksa berbalik arah akibat blokade yang dilakukan Amerika Serikat.












