Harusnya Horror Siap Tayang 20 Agustus, Gabungkan Komedi Absurd, Horor, dan Satir Creator Economy

Angkat Satir tentang Creator Economy

Salah satu hal yang membedakan Harusnya Horror dari film komedi-horor lainnya adalah isu yang diangkat.

Film ini memasukkan kehidupan content creator sebagai bagian dari cerita. Fenomena mengejar popularitas, membuat konten demi viral, hingga menjadikan berbagai situasi sebagai bahan konten dikemas melalui pendekatan satire.

Produser Harusnya Horror, Sridhar Jetty, mengatakan film tersebut berusaha merefleksikan fenomena yang berkembang di Indonesia saat ini.

“Meski genrenya komedi-horor, tetapi film ini punya makna yang relevan, tentang situasi creator economy, saat semuanya dijadikan konten, film ini ingin memberikan refleksi dan satir dalam bentuk komedi,” ujar Sridhar.

Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan membuat penonton tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga menemukan kedekatan dengan persoalan yang diangkat.

Dibintangi Member AAAClan

Harusnya Horror juga menjadi debut akting layar lebar bagi sejumlah member AAAClan.

Mereka adalah George Tierson sebagai Jot, Yukatheo Glen Widjaja sebagai Yuka, Garry Andriawan Ang sebagai Garry, Teguh Prakoso sebagai Tepe, Aldy Renaldy sebagai Aloy, Ariyanto sebagai Ibot, Niko Junius sebagai Niko, serta Bravyson sebagai Vicong.

Film ini turut menghadirkan Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, Malka Rafasya, serta penampilan spesial Yoshua Marcellos atau Cellos.

George Tierson mengungkapkan bahwa proses pengembangan karakter memberikan kesempatan kepada para pemain untuk keluar dari citra mereka sebagai content creator.

“Sebagai sutradara, Reza memberikan treatment yang berbeda untuk kami. Dia memberikan kebebasan kreatif ke kami sebagai aktor untuk bisa mengeksplorasi karakter,” kata George.

Proses tersebut turut didukung acting coach dan pengembangan karakter sebelum produksi sehingga para pemain dapat membangun sosok yang berbeda dari persona mereka di dunia digital.