BMKG turut menemukan konsentrasi petir vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau. Meski demikian, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa dentuman yang terdengar di Bandung Raya berasal dari letusan gunung api tersebut.
Menurut Suaidi, salah satu persoalan yang dihadapi adalah sebaran laporan suara. Dentuman dilaporkan terdengar di Bandung Raya, tetapi tidak terdengar di sejumlah wilayah lain seperti Jakarta, Bogor dan Banten. BMKG menyebut fenomena dentuman yang belum diketahui sumbernya itu sebagai skyquake atau dentuman langit. “Nah, skyquake ini, itu fenomenanya masih belum bisa dijelaskan secara akademis, terkait dengan dentuman ini,” ujar Suaidi.
Ia menilai jarak antara Gunung Anak Krakatau dan Bandung Raya juga perlu menjadi pertimbangan serius. Berdasarkan kondisi aktivitas vulkanik yang terjadi pada Jumat malam, BMKG menilai suara letusan tersebut secara fisika sulit terdengar hingga Kota Bandung.
Arah angin saat kejadian juga bergerak dari tenggara ke barat. Kondisi itu dinilai tidak mendukung kemungkinan gelombang suara dari Anak Krakatau merambat hingga Bandung Raya. Suaidi bahkan menyebut salah satu kemungkinan yang perlu dikaji lebih jauh adalah kondisi geologi Bandung Raya yang berada di kawasan bekas Danau Bandung Purba.
Menurutnya, literatur ilmiah membuka kemungkinan adanya fenomena yang berkaitan dengan aktivitas gas, termasuk gas metana, meski dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab dentuman. Fenomena serupa pernah dilaporkan terjadi di Bogor pada April 2020 dan hingga kini belum memperoleh penjelasan definitif.













1 komentar
Komentar ditutup.