“Kami kenal dengan teman-teman dia. Karena itu kami mengizinkan dia berangkat ke Garut,” ujar Fitri.
Berdasarkan informasi keluarga, Maimanati berangkat dari Stasiun Cicalengka menggunakan kereta api menuju Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung. Dari sana, ia berencana melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju Garut.
Namun, belakangan keluarga menduga Maimanati tidak pernah berhasil melanjutkan perjalanan ke Garut. Dugaan tersebut muncul setelah diketahui adanya kendala saat proses pemesanan tiket kereta lanjutan.
Menurut Fitri, data identitas yang digunakan dalam pemesanan tiket ternyata bukan milik Maimanati, melainkan menggunakan identitas ibunya. Perbedaan data tersebut diduga menyebabkan tiket tidak dapat digunakan karena tidak sesuai dengan identitas penumpang.
“Kami menduga dia tidak sampai ke Garut karena data tiket yang digunakan bukan data pribadinya sehingga tidak sinkron dengan KTP,” kata Fitri.
Keluarga kemudian berusaha memastikan keberadaan Maimanati dengan menghubungi teman-temannya di Garut. Namun hasilnya nihil karena tidak seorang pun mengaku sempat bertemu dengan mahasiswi tersebut.
“Teman-temannya bilang tidak sempat bertemu dengan Maimanati,” ujarnya.
Harapan keluarga sempat muncul ketika pada Senin, 13 Juli 2026, Maimanati mengirimkan pesan singkat yang menyatakan dirinya akan segera pulang. Akan tetapi setelah pesan tersebut dikirim, komunikasi kembali terputus.













