BeritaBandungRaya.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk memiliki minimal satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini dinilai penting untuk mendukung peningkatan gizi nasional sekaligus memperkuat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
âSaya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,â ujar Dadan, Kamis (30/6/2026).
BACA JUGA: Dugaan Erin Taulany Siksa ART Viral di Media Sosial, Mantan Istri Andre Taulany Tempuh Jalur Hukum
Sejumlah Kampus Sudah Mulai Bangun SPPG
Saat ini, beberapa kampus telah lebih dulu memiliki SPPG, di antaranya Universitas Hasanuddin dan IPB University. Selain itu, sejumlah perguruan tinggi swasta juga mulai mengembangkan fasilitas serupa.
Menurut Dadan, Unhas menjadi pelopor di kawasan Indonesia Timur dalam pengembangan SPPG berbasis kampus.
âDi IPB sudah ada, di beberapa perguruan tinggi swasta sudah ada, tapi yang pertama di PTN di Indonesia Timur, Unhas selalu leading dalam hal tersebut,â ujarnya.
Kampus Jadi Pusat Produksi hingga Distribusi Gizi
Dadan menjelaskan, SPPG tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi. Lebih dari itu, fasilitas ini dapat menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pengembangan pangan di lingkungan kampus.
Kampus bahkan didorong untuk mengelola pasokan bahan pangan secara mandiri, mulai dari produksi hingga distribusi.
Untuk mendukung operasional satu SPPG, dibutuhkan lahan yang cukup besar. Setidaknya diperlukan sekitar 8 hektare lahan untuk produksi beras dan 19 hektare untuk jagung sebagai pakan ternak.
Selain itu, sektor peternakan juga menjadi bagian penting dalam rantai pasok, terutama untuk memenuhi kebutuhan protein.
âKalau ingin telurnya dipasok sendiri, maka harus ada sekitar 3.700 sampai 4.000 ayam petelur untuk satu SPPG,â jelas Dadan.













