PVMBG Buka Kemungkinan Dentuman di Jawa Barat Berasal dari Erupsi Gunung Anak Krakatau

PVMBG juga merujuk pada peristiwa erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur pada 13 Februari 2014. Erupsi eksplosif saat itu menghasilkan kolom erupsi yang mencapai sekitar 17 kilometer. Energi akustik yang dilepaskan dalam peristiwa tersebut membuat suara dentuman dilaporkan dapat terdengar hingga wilayah yang cukup jauh dari pusat erupsi.

“Erupsi di Gunung Kelud saat itu kolomnya 17 km, sehingga melepaskan energi akustik yang sangat besar,” ujar Rita. Menurut dia, sejarah aktivitas gunung api menunjukkan suara dari erupsi dalam kondisi tertentu memang dapat merambat hingga jarak yang jauh.

Karena itu, dengan mempertimbangkan pengalaman Anak Krakatau pada 2020 serta erupsi Gunung Kelud pada 2014, PVMBG menempatkan erupsi terbaru Anak Krakatau sebagai salah satu kemungkinan yang sedang diperhitungkan.

Baca Juga: Wujud Apresiasi dan Senyum Hangat, Manajemen BRI Region 9 Bandung Sapa Nasabah Langsung di Hari Pelanggan Nasional 2026

“Dengan mempertimbangkan kejadian Gunung Anak Krakatau tahun 2020 dan erupsi Kelud 2014, kami sekali lagi menduga memang kemungkinan erupsi Gunung Anak Krakatau ini sebagai salah satu kemungkinan sumber suara dentuman di beberapa wilayah di Jawa Barat pada 4-5 September 2026,” katanya.

PVMBG memastikan pemantauan Gunung Anak Krakatau terus dilakukan, termasuk terhadap aktivitas vulkanik dan perubahan bentuk atau morfologi tubuh gunung. Di sisi lain, BMKG masih melakukan kajian terhadap fenomena dentuman yang disebut sebagai skyquake. Kedua lembaga memiliki penekanan berbeda dalam menjelaskan kemungkinan penyebabnya.