“Ini arahan pak gubernur dan tentu didasarkan pada kajian teknokratis, dengan tujuan memberikan manfaat yang lebih besar,” ujar Herman.
Ia menambahkan, kawasan Gedung Sate ke depan akan dirancang sebagai ruang publik yang terintegrasi secara fisik dan mampu memperkuat peran simbolis Jawa Barat.
Selama ini, Gedung Sate dinilai kurang menonjol sebagai pusat pemerintahan karena tertutup oleh bangunan tinggi di sekitar kawasan Gasibu. Melalui revitalisasi ini, pemerintah ingin mengembalikan posisinya sebagai titik pusat (center point) Jawa Barat.
Namun, proyek ini juga memunculkan perhatian terkait keberadaan Batu Prasasti Sapta Taruna yang menjadi simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Mas Adi Komar, memastikan bahwa elemen tersebut tetap akan ditata dalam konsep revitalisasi.
“Penataan direncanakan dilaksanakan pada 8 April 2026 hingga 6 Agustus 2026 secara sistematis dan transparan. Untuk prasasti akan ada penataan,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa revitalisasi ini merupakan bagian dari visi besar untuk meningkatkan kewibawaan pusat pemerintahan. Ia berharap ke depan upacara kemerdekaan dapat digelar di halaman depan Gedung Sate, menggantikan lokasi sebelumnya di Lapangan Gasibu.
“Ke depan saya punya rencana, dan berharap upacara kemerdekaan bisa dilaksanakan di depan Gedung Sate,” kata Dedi.












