Sesampainya di ruang guru, korban disebut belum mengetahui alasan dirinya dipanggil. AT ketika itu masih berbicara dengan siswa lainnya. Korban kemudian menunggu di salah satu kursi yang berada di ruangan tersebut. Dalam kondisi mengantuk, korban akhirnya tertidur.
Korban Mengaku Terbangun karena Kontak Fisik
Dalam pengakuan yang kemudian beredar, korban menyebut dirinya tiba-tiba terbangun ketika merasakan adanya sentuhan pada bagian tubuhnya. Korban menduga tindakan tersebut dilakukan oleh AT. Ia mengaku terkejut dan mengalami kondisi terguncang setelah menyadari apa yang terjadi.
Baca Juga: Bukan Cuma Bandung, 18 Rute BRT Ini Bakal Tembus Lembang, Soreang hingga Jatinangor
Dugaan tindakan yang dialami korban disebut berupa kontak fisik tanpa persetujuan. Informasi mengenai detail kejadian tersebut kini menjadi bagian dari materi yang didalami penyidik. Setelah menyadari situasi yang terjadi, korban disebut berusaha meninggalkan ruangan. Ia kemudian menuju ruang OSIS dan mendapat pertolongan dari siswa lainnya.
Pengakuan korban inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu mencuatnya kasus dugaan pelecehan tersebut di lingkungan sekolah.
Percakapan WhatsApp Ikut Beredar
Selain pengakuan korban, tangkapan layar percakapan WhatsApp juga beredar di media sosial. Percakapan tersebut diduga terjadi antara guru dan korban. Dalam sejumlah pesan yang beredar, terdapat permintaan maaf dari pihak yang disebut sebagai guru.
Namun, isi percakapan tersebut tidak secara keseluruhan menjelaskan kronologi dugaan pencabulan. Karena itu, keaslian, konteks, dan hubungan percakapan dengan perkara masih perlu dibuktikan melalui proses penyelidikan dan penyidikan. Polisi juga masih memeriksa sejumlah pihak untuk memastikan rangkaian peristiwa yang sebenarnya.
Siswa SMAN 1 Pamanukan Gelar Aksi
Informasi mengenai dugaan pelecehan tersebut kemudian memicu reaksi keras dari siswa SMAN 1 Pamanukan. Pada Senin (7/9/2026), ratusan siswa menggelar aksi protes di lingkungan sekolah. Aksi tersebut berlangsung setelah kegiatan upacara bendera.











