Secara teknis, jalan baru ini dirancang sejajar dengan Jalan Surapati, tepat setelah turunan Flyover Pasupati. Meski tetap mempertahankan dua lajur, pembangunan jalan ini akan memanfaatkan sebagian lahan Gasibu, khususnya area sekitar Perpustakaan Gasibu di seberang gerbang hotel.
Dedi menjelaskan konsep ini sebagai “tukar fungsi lahan”, di mana ruas jalan lama berubah menjadi halaman publik, sementara sebagian area Gasibu digunakan sebagai jalur pengganti. Ia menilai desain tersebut akan meningkatkan nilai estetika kawasan sekaligus memperluas ruang publik bagi masyarakat.
“Jalannya tetap berfungsi, bahkan nanti lebih indah karena melingkari halaman Gedung Sate. Tamannya juga harus lebih bagus,” kata Dedi.
Baca Juga: WFH Makin Hemat, Telkomsel Hadirkan Beragam Promo Internet Spesial di Jabotabek dan Jawa Barat
Selain mempercantik kawasan, rekayasa ini juga diproyeksikan membuat tampilan jalan di sekitar turunan Flyover Pasupati terlihat lebih luas dan tertata. Integrasi ruang hijau dengan jalur lalu lintas diharapkan menciptakan ikon baru Kota Bandung.
Meski demikian, Dedi belum merinci jadwal pasti pembangunan Jalan Diponegoro baru. Ia hanya memastikan proyek penyatuan Gedung Sate dan Gasibu ditargetkan rampung pada 7 Agustus 2026.
Dengan konsep ini, revitalisasi kawasan pusat pemerintahan Jawa Barat tidak hanya menghadirkan ruang publik terpadu, tetapi juga solusi rekayasa lalu lintas yang tetap menjaga aksesibilitas di jantung Kota Bandung.***












