“Yang tadinya kurus tambah gemuk enggak? Yang tadinya apa, underweight itu jadi kemudian normal enggak? Yang tadinya pendek jadi tinggi enggak? Dan lain-lain, itu kan intinya itu,” katanya.
BGN Evaluasi Dugaan Keracunan MBG
Penguatan sistem evaluasi tersebut dilakukan ketika BGN juga tengah menghadapi sejumlah laporan dugaan keracunan dalam pelaksanaan MBG di beberapa daerah.
Sudaryono mengungkapkan, hasil evaluasi internal menunjukkan sekitar 80-90 persen kasus yang telah dianalisis berkaitan dengan ketidakpatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP).
Pelanggaran prosedur tersebut, menurut dia, dapat terjadi dalam berbagai tahapan, mulai dari penerimaan bahan makanan, proses penyimpanan, pengaturan suhu hingga batas waktu konsumsi.
“Tidak taat SOP penyimpanan, tidak taat SOP pada saat dia penerimaan barang, tidak taat SOP terkait suhu dan waktu konsumsi, batas konsumsi waktu, dan seterusnya,” ujarnya.
BGN sebelumnya sempat melihat penurunan kasus setelah menerapkan pembagian jam kerja Kepala Dapur dan Pengawas Gizi pada dini hari serta sore hari.
Kebijakan tersebut sempat membuat kondisi relatif terkendali selama sekitar tiga pekan. Namun, dalam beberapa hari terakhir kembali muncul laporan dugaan keracunan di sejumlah daerah, termasuk Sidoarjo, Agam, dan Rembang.
Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Tutup Jalur Pendakian Gunung di Jawa Barat, Ternyata Ini Alasannya!
Tata Kelola MBG Akan Diperbaiki
Munculnya kembali laporan tersebut menjadi perhatian serius BGN. Sudaryono mengatakan lembaganya akan terus melakukan perbaikan terhadap tata kelola pelaksanaan program MBG.













